Teks Khutbah Jum’at  “Saat Hiburan Mengalahkan Kewajiban: Muhasabah Seorang Muslim”

Teks Khutbah Jum’at “Saat Hiburan Mengalahkan Kewajiban: Muhasabah Seorang Muslim”

 

Teks Khutbah Jum’at

“Saat Hiburan Mengalahkan Kewajiban: Muhasabah Seorang Muslim”

Oleh Dr. Derysmono, Lc., S.Pd.I., M.A.

(Wakil Ketua I STAI Dirosat Islamiyah Al-Hikmah Jakarta, CEO adaustadzh.com, Ketua Umum PP HDMI, Direktur Ma’had Aly Raudhotul Qur’an Azzam Sako)

 

Khutbah ke-1

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الصَّلَاةَ عِمَادَ الدِّيْنِ، وَجَعَلَ ذِكْرَهُ طُمَأْنِيْنَةً لِلْقُلُوْبِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin Jama’ah Jumat yang dirahmati Allah

Marilah kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah Rabb yang masih memberi kita nikmat iman, nikmat Islam, nikmat sehat, nikmat waktu, dan kesempatan untuk hadir menunaikan shalat Jumat. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.

Khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita meningkatkan takwa kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Takwa bukan hanya tampak ketika kita berada di masjid, tetapi juga ketika kita berada di rumah, di tempat kerja, di jalan, di depan layar handphone, di tengah hiburan, dan di tengah kesibukan dunia.

Pada kesempatan yang mulia ini, khatib mengangkat tema: “Saat Hiburan Mengalahkan Kewajiban: Muhasabah Seorang Muslim.” Tema ini penting karena hari ini banyak manusia tidak selalu jatuh karena dosa besar yang tampak, tetapi karena kelalaian kecil yang terus dipelihara: menunda shalat, meninggalkan Subuh karena begadang, lupa Al-Qur’an karena tontonan, dan menghabiskan waktu untuk hiburan sampai kewajiban kepada Allah terabaikan.

  1. Islam Tidak Mengharamkan Hiburan, Tetapi Mengharamkan Kelalaian

Jamaah Jumat rahimakumullah, Islam adalah agama yang seimbang. Islam tidak melarang seorang Muslim tersenyum, beristirahat, berolahraga, menonton pertandingan, menikmati karya seni yang halal, atau bercengkerama dengan keluarga. Yang dilarang bukan semata-mata hiburannya, tetapi ketika hiburan itu berubah menjadi kelalaian, melampaui batas, merusak akhlak, menghabiskan waktu, dan membuat kewajiban kepada Allah dikorbankan.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذٰلِكَ فَأُولٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9)

Ayat ini menyebut harta dan anak, padahal keduanya adalah hal yang dicintai manusia dan pada dasarnya boleh. Namun jika yang halal saja dapat menjadi sebab kelalaian dari Allah, maka hiburan, pertandingan bola, media sosial, permainan, tontonan, dan kesenangan dunia tentu lebih harus kita waspadai apabila ia mengambil tempat kewajiban dalam hidup kita.

  1. Ketika Bola, Tontonan, dan Media Sosial Lebih Ditunggu daripada Azan

Hari ini sebagian orang sanggup menunggu jadwal pertandingan bola sejak malam. Kick-off diingat, nama pemain dihafal, strategi tim dibahas, bahkan rela begadang berjam-jam. Namun ketika azan Subuh berkumandang, tubuh terasa berat, mata sulit terbuka, dan shalat pun tertunda atau bahkan ditinggalkan. Inilah muhasabah besar bagi seorang Muslim: mengapa panggilan manusia atau hiburan begitu cepat kita sambut, sementara panggilan Allah sering kita abaikan?

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا إِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah: 9)

Dalam ayat ini Allah memerintahkan kita meninggalkan jual beli ketika panggilan shalat Jumat dikumandangkan. Jual beli adalah pekerjaan yang halal dan bermanfaat, tetapi tetap harus dihentikan saat panggilan Allah datang. Maka, apalagi hiburan yang hanya bersifat tambahan dalam hidup. Tidak pantas pertandingan, tontonan, game, obrolan, dan media sosial lebih dihormati daripada azan.

وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوْا إِلَيْهَا وَتَرَكُوْكَ قَائِمًا ۚ قُلْ مَا عِنْدَ اللّٰهِ خَيْرٌ مِّنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ ۚ وَاللّٰهُ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ

Artinya: “Apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka segera menuju kepadanya dan mereka tinggalkan engkau sedang berdiri. Katakanlah: Apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perdagangan. Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki.” (QS. Al-Jumu’ah: 11)

Ayat ini mengingatkan bahwa manusia dapat tergoda oleh dua hal: keuntungan dunia dan hiburan. Keduanya dapat membuat manusia meninggalkan majelis ketaatan. Maka seorang Muslim harus bertanya kepada dirinya: apakah hiburan membuat saya lebih jauh dari masjid? Apakah tontonan membuat saya kehilangan khusyuk? Apakah begadang membuat saya kalah dari shalat Subuh?

  1. Shalat Adalah Tiang Agama, Bukan Sisa Waktu

Hadirin yang dimuliakan Allah, shalat bukan kegiatan tambahan ketika kita sempat. Shalat adalah kewajiban utama, tiang agama, dan tanda hidupnya iman. Orang yang menjaga shalat berarti menjaga hubungannya dengan Allah. Orang yang meremehkan shalat sesungguhnya sedang meremehkan hubungan paling penting dalam hidupnya.

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتَابًا مَوْقُوْتًا

Artinya: “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 103)

اتْلُ مَا أُوْحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ

Artinya: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab, dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan mengingat Allah itu lebih besar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ

Artinya: “Antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)

Hadits ini bukan untuk membuat kita mudah menghakimi orang lain, tetapi untuk mengguncang hati kita sendiri agar tidak meremehkan shalat. Jangan sampai seorang Muslim begitu disiplin dengan jadwal pertandingan, rapat, bisnis, dan hiburan, tetapi tidak disiplin dengan jadwal shalat yang telah ditetapkan Allah.

  1. Waktu Luang Adalah Nikmat yang Sering Menipu

Banyak orang merasa masih punya waktu. Masih muda, masih sehat, masih bisa memperbaiki diri nanti. Akhirnya waktu luang habis untuk scroll media sosial, menonton tanpa batas, begadang tanpa manfaat, dan membicarakan hal yang tidak mendekatkan kepada Allah. Padahal waktu adalah modal hidup yang tidak pernah kembali.

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Artinya: “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)

Hadits ini sangat relevan dengan keadaan kita. Banyak orang baru sadar pentingnya sehat ketika sakit. Banyak orang baru menyesali waktu ketika kesempatan telah pergi. Maka jangan jadikan hiburan sebagai pencuri waktu yang membuat kita rugi di dunia dan menyesal di akhirat.

  1. Setan Senang Ketika Hiburan Menjadi Jalan Melupakan Allah

Jamaah Jumat rahimakumullah, hiburan yang halal dapat menjadi sarana istirahat. Namun setan selalu mencari celah agar yang mubah berubah menjadi lalai, yang lalai berubah menjadi maksiat, dan yang maksiat berubah menjadi kebiasaan. Awalnya hanya menonton sebentar, kemudian lupa waktu. Awalnya hanya ingin hiburan, kemudian melupakan shalat. Awalnya hanya ingin melepas lelah, kemudian hati menjadi keras dari nasihat.

إِنَّمَا يُرِيْدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوْقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُوْنَ

Artinya: “Sesungguhnya setan hanya bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu melalui khamar dan judi, serta menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat. Maka tidakkah kamu mau berhenti?” (QS. Al-Ma’idah: 91)

Ayat ini menyebutkan salah satu target besar setan: menghalangi manusia dari dzikir dan shalat. Maka apa pun bentuknya, jika sebuah hiburan sudah membuat kita meninggalkan shalat, lalai dari Al-Qur’an, meninggalkan keluarga, mengabaikan amanah, atau mengeraskan hati, berarti hiburan itu telah menjadi pintu kelalaian yang harus segera dikendalikan.

  1. Muslim yang Baik Menikmati Dunia tanpa Kehilangan Akhirat

Islam tidak mengajarkan kita membenci dunia secara mutlak. Kita boleh bekerja, berdagang, berolahraga, berkumpul dengan keluarga, dan menikmati hiburan yang halal. Namun semua itu harus berada di bawah kendali iman. Dunia boleh berada di tangan, tetapi jangan sampai menguasai hati. Hiburan boleh dinikmati, tetapi Allah harus tetap menjadi prioritas tertinggi.

رِجَالٌ لَا تُلْهِيْهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ ۙ يَخَافُوْنَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيْهِ الْقُلُوْبُ وَالْأَبْصَارُ

Artinya: “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang.” (QS. An-Nur: 37)

Inilah pribadi Muslim yang matang. Ia tidak harus meninggalkan dunia, tetapi tidak diperbudak oleh dunia. Ia bekerja, tetapi tidak meninggalkan shalat. Ia memiliki hiburan, tetapi tidak melalaikan Allah. Ia mengikuti perkembangan zaman, tetapi tidak kehilangan arah akhirat.

  1. Muhasabah Praktis: Mengembalikan Hiburan ke Tempatnya

Agar khutbah ini tidak berhenti pada nasihat, mari kita jadikan beberapa langkah sederhana sebagai muhasabah bersama:

  • Utamakan jadwal shalat sebelum menyusun jadwal kerja, tontonan, pertandingan, perjalanan, dan aktivitas lainnya.
  • Jika hiburan malam membuat Subuh tertinggal, maka kurangi atau tinggalkan hiburan itu. Kemenangan iman lebih penting daripada kemenangan tim mana pun.
  • Gunakan alarm bukan hanya untuk bangun kerja, tetapi juga untuk bangun shalat dan membaca Al-Qur’an.
  • Jadikan keluarga sebagai lingkungan yang saling mengingatkan, bukan saling membiarkan dalam kelalaian.
  • Ganti sebagian waktu layar dengan dzikir, tilawah, silaturahim, olahraga sehat, dan amal yang memberi manfaat.
  • Ajarkan kepada anak-anak bahwa hiburan boleh dinikmati, tetapi shalat, adab, belajar, dan tanggung jawab tidak boleh dikalahkan.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengingatkan bahwa waktu hidup akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيْمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَ أَبْلَاهُ

Artinya: “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari Kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, ilmunya untuk apa ia amalkan, hartanya dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan, serta tubuhnya untuk apa ia gunakan.” (HR. At-Tirmidzi)

Maka mari bertanya kepada diri sendiri: untuk apa umur kita habiskan? Untuk apa malam-malam kita gunakan? Untuk apa handphone kita manfaatkan? Apakah lebih banyak menjadi jalan dzikir atau jalan lalai? Apakah lebih banyak mengantar kepada shalat atau menjauhkan dari shalat?

Penutup Khutbah Pertama

Jamaah Jumat rahimakumullah, hiburan tidak salah jika ia berada pada tempatnya. Yang salah adalah ketika hiburan mengalahkan kewajiban. Menonton bola tidak salah selama shalat tidak dikorbankan. Menggunakan media sosial tidak salah selama adab dan waktu dijaga. Bersenang-senang tidak salah selama tidak membuat hati menjauh dari Allah. Namun ketika azan kalah oleh notifikasi, ketika shalat kalah oleh pertandingan, ketika Al-Qur’an kalah oleh tontonan, maka saat itulah seorang Muslim harus segera bermuhasabah.

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang mampu mengendalikan dunia, bukan dikendalikan oleh dunia; mampu menikmati hiburan secara wajar, bukan diperbudak olehnya; dan mampu menjaga shalat sebagai tanda cinta dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

 

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يُحَافِظُوْنَ عَلَى الصَّلَوَاتِ، وَاجْعَلْ قُلُوْبَنَا مُعَلَّقَةً بِذِكْرِكَ، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ شَبَابَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَاحْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَوَفِّقْهُمْ لِحُبِّ الصَّلَاةِ وَحُبِّ الْقُرْآنِ وَحُسْنِ الْأَخْلَاقِ.

اَللّٰهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.