Teks Khutbah Jum’at
“EMPAT BAHAYA YANG MENGHALANGI KEBAHAGIAAN DUNIA DAN AKHIRAT”
Oleh Dr. Derysmono, B.Sh., S.Pd.I., M.A.
(Wakil Ketua 1 STAI Dirosat Islamiyah Al-Hikmah Jakarta, CEO adaustadzh.com,
Ketua Umum PP HDMI, Direktur Ma’had Aly Raudhotul Qur’an Azzam Sako, Kacab Safana Depok)
Khutbah ke-1
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ الْمُقَصِّرَةَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللّٰهِ خَيْرُ زَادٍ لِلْقَاءِ اللّٰهِ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Hadirin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menanamkan dalam hati orang-orang beriman kerinduan kepada rumah-Nya yang suci dan kecintaan kepada Rasul-Nya yang mulia. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, manusia yang paling kita cintai setelah Allah, pembawa petunjuk, rahmat, dan jalan keselamatan.
Marilah kita meningkatkan takwa kepada Allah. Sebab rindu yang tidak dibimbing takwa dapat berhenti sebagai perasaan, sedangkan rindu yang dibimbing iman akan berubah menjadi doa, persiapan, ketaatan, dan keteladanan.
Pada kesempatan yang mulia ini, khatib mengangkat tema: “ EMPAT BAHAYA YANG MENGHALANGI KEBAHAGIAAN DUNIA DAN AKHIRAT”
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling sempurna imannya, paling mulia akhlaknya, dan paling dekat dengan Allah ﷻ. Namun demikian, beliau tetap mengajarkan kepada kita untuk senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dari berbagai keburukan.
Di antara doa Nabi ﷺ terdapat dua doa yang sangat agung. Jika kita renungkan, keduanya mengandung Empat perkara yang dapat menghalangi kebahagiaan manusia, baik kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.
Delapan perkara tersebut dapat kita rangkum menjadi empat bahaya besar.
PERTAMA: UJIAN YANG BERAT DAN HATI YANG TIDAK KHUSYUK
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Bahaya pertama adalah ketika seseorang menghadapi beratnya cobaan, sementara hatinya tidak memiliki kekuatan untuk tunduk dan bersandar kepada Allah.
Rasulullah ﷺ berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari beratnya cobaan dan datangnya kesengsaraan.”
Dan dalam doa yang lain beliau ﷺ bersabda:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyuk.”
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Keduanya memiliki hubungan yang sangat erat.
Cobaan dalam kehidupan tidak selalu dapat kita hindari. Ada orang yang diuji dengan penyakit. Ada yang diuji dengan kehilangan orang yang dicintai. Ada yang diuji dengan kesulitan ekonomi. Ada yang diuji dengan masalah rumah tangga. Ada yang diuji dengan anak-anak, pekerjaan, utang, dan berbagai persoalan kehidupan.
Namun yang paling berbahaya bukan hanya beratnya ujian.
Yang lebih berbahaya adalah ketika ujian membuat hati kita jauh dari Allah.
Ada orang yang ketika diuji semakin dekat kepada Allah. Tetapi ada pula yang ketika diuji justru meninggalkan shalat, berputus asa, menyalahkan takdir, bahkan melakukan perbuatan yang diharamkan.
Maka kita tidak hanya meminta kepada Allah agar dijauhkan dari ujian yang berat. Kita juga memohon agar diberikan hati yang khusyuk dan kuat menghadapi ujian.
Allah ﷻ berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Jamaah rahimakumullah,
Ketika hati dekat dengan Allah, masalah yang besar tidak selalu terasa menghancurkan.
Air mata mungkin tetap mengalir, tetapi hati tidak kehilangan harapan.
Kesulitan mungkin tetap ada, tetapi kita yakin Allah bersama kita.
Kehilangan mungkin menyakitkan, tetapi kita percaya bahwa Allah tidak pernah salah dalam menetapkan takdir-Nya.
Karena itu, ketika menghadapi ujian, jangan hanya meminta agar masalah segera selesai. Mintalah pula:
“Ya Allah, kuatkan hati kami ketika menghadapi masalah. Jangan biarkan ujian menjauhkan kami dari-Mu.”
KEDUA: KESENGSARAAN DAN JIWA YANG TIDAK PERNAH PUAS
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Bahaya kedua adalah kesengsaraan yang lahir dari jiwa yang tidak pernah merasa cukup.
Rasulullah ﷺ berlindung dari:
وَدَرَكِ الشَّقَاءِ
“Datangnya kesengsaraan.”
Dan dalam doa yang lain beliau ﷺ memohon:
وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ
“Dan aku berlindung kepada-Mu dari jiwa yang tidak pernah merasa puas.”
Jamaah yang dirahmati Allah,
Perhatikanlah, seseorang bisa memiliki banyak harta tetapi belum tentu bahagia.
Bisa memiliki rumah besar tetapi hatinya tidak tenang.
Bisa memiliki kendaraan mewah tetapi hidupnya penuh kecemasan.
Bisa memiliki penghasilan besar tetapi selalu merasa kekurangan.
Mengapa?
Karena kebahagiaan tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita miliki, tetapi juga oleh apa yang ada di dalam hati kita.
Jika jiwa tidak pernah puas, maka sebanyak apa pun yang dimiliki akan terasa kurang.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ
“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Jamaah rahimakumullah,
Islam tidak melarang kita menjadi kaya. Islam tidak melarang kita memiliki rumah yang bagus, kendaraan yang baik, usaha yang maju, atau cita-cita yang tinggi.
Yang berbahaya adalah ketika harta semakin bertambah tetapi rasa syukur semakin berkurang.
Karena itu, kita perlu membedakan antara keinginan untuk maju dengan jiwa yang tidak pernah puas.
Orang yang bersyukur boleh ingin memiliki lebih banyak, tetapi ia tetap bahagia dengan apa yang telah Allah berikan.
Sedangkan orang yang tidak pernah puas, sekalipun memiliki banyak, hatinya tetap merasa miskin.
Allah ﷻ berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2–3).
Maka marilah kita belajar qanaah.
Bukan berarti berhenti berusaha.
Bukan berarti tidak boleh bercita-cita.
Tetapi hati kita harus selalu mengatakan:
“Ini adalah karunia Allah. Saya bersyukur atas apa yang Allah berikan. Jika Allah menambah, saya bersyukur. Jika Allah belum memberikan, saya tetap percaya kepada-Nya.”
KETIGA: KETETAPAN YANG BURUK DAN ILMU YANG TIDAK BERMANFAAT
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Bahaya ketiga adalah buruknya ketetapan hidup dan ilmu yang tidak memberikan manfaat.
Nabi ﷺ berdoa:
وَسُوءِ الْقَضَاءِ
“Dan aku berlindung kepada-Mu dari buruknya ketetapan.”
Dalam doa yang lain beliau ﷺ memohon:
وَمِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ
“Dan aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.”
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Mengapa dua perkara ini dapat kita hubungkan?
Karena ilmu seharusnya menjadi petunjuk bagi manusia dalam menjalani kehidupannya.
Ilmu yang benar seharusnya membawa seseorang kepada ketaatan.
Ilmu membuat seseorang mengetahui mana yang halal dan haram.
Ilmu membuat seseorang mengetahui bagaimana menghadapi ujian.
Ilmu membuat seseorang mengetahui bagaimana bersikap ketika mendapatkan nikmat.
Namun ketika ilmu tidak diamalkan, ia tidak memberikan perubahan yang berarti dalam kehidupan.
Seseorang mungkin mengetahui bahwa shalat adalah kewajiban, tetapi ia meninggalkan shalat.
Mengetahui bahwa ghibah adalah dosa, tetapi lisannya tetap membicarakan keburukan orang lain.
Mengetahui bahwa riba diharamkan, tetapi tetap mencari keuntungan dengan cara yang haram.
Mengetahui bahwa dunia ini sementara, tetapi seluruh hidupnya hanya mengejar dunia.
Inilah ilmu yang tidak memberikan manfaat.
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2–3).
Jamaah rahimakumullah,
Ilmu yang bermanfaat bukan sekadar membuat seseorang tahu, tetapi membuatnya berubah.
Dari tidak shalat menjadi rajin shalat.
Dari suka berdusta menjadi menjaga kejujuran.
Dari suka marah menjadi belajar sabar.
Dari cinta dunia menjadi cinta akhirat.
Dari sombong menjadi tawadhu.
Maka jangan hanya bertanya, “Berapa banyak ilmu yang sudah saya pelajari?”
Tanyakan pula:
“Berapa banyak ilmu yang sudah mengubah diri saya?”
Sebab ilmu yang paling berharga adalah ilmu yang membawa kita semakin dekat kepada Allah dan menjadikan kehidupan kita semakin baik.
KEEMPAT: MUSUH YANG BERGEMBIRA DAN DOA YANG TIDAK DIKABULKAN
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Bahaya keempat adalah kegembiraan musuh atas penderitaan kita dan doa yang tidak dikabulkan.
Nabi ﷺ berdoa:
وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ
“Dan aku berlindung kepada-Mu dari kegembiraan musuh atas penderitaan.”
Dan beliau ﷺ juga berdoa:
وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا
“Dan aku berlindung kepada-Mu dari doa yang tidak dikabulkan.”
Jamaah yang dirahmati Allah,
Seorang Muslim tentu berharap mendapatkan pertolongan dan perlindungan Allah dari orang-orang yang memusuhinya.
Tetapi ada pelajaran yang lebih dalam.
Jangan sampai kita sendiri menjadi orang yang bergembira ketika melihat saudara kita tertimpa musibah.
Jangan senang ketika orang lain bangkrut.
Jangan bahagia ketika rumah tangga orang lain hancur.
Jangan tertawa ketika seseorang jatuh dalam kesulitan.
Jangan menyebarkan aib orang yang sedang mendapatkan musibah.
Sebab kita tidak pernah tahu siapa yang akan diuji berikutnya.
Allah ﷻ berfirman:
وَلَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ
“Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diolok-olok itu lebih baik daripada mereka.” (QS. Al-Hujurat: 11).
Jamaah rahimakumullah,
Kemudian Nabi ﷺ juga mengajarkan agar kita berlindung dari doa yang tidak dikabulkan.
Namun jangan salah memahami perkara ini.
Ketika kita berdoa lalu sesuatu yang kita minta belum terjadi, bukan berarti Allah tidak mendengar.
Allah mendengar setiap doa.
Allah mengetahui apa yang kita butuhkan.
Allah mengetahui apa yang terbaik bagi kita.
Terkadang Allah memberikan apa yang kita minta.
Terkadang Allah menundanya.
Terkadang Allah menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.
Dan terkadang Allah menghindarkan kita dari keburukan yang tidak kita ketahui.
Karena itu, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah.
Allah ﷻ berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan memperkenankan bagimu.’” (QS. Ghafir: 60).
Maka jika doa kita belum terwujud, jangan berhenti berdoa.
Perbanyak istighfar.
Perbaiki makanan dan penghasilan kita agar halal.
Tinggalkan dosa.
Perbaiki hubungan dengan sesama.
Dan teruslah berdoa dengan keyakinan bahwa Allah mengetahui apa yang terbaik bagi kita.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Jika kita renungkan, empat bahaya besar ini sebenarnya merupakan gambaran tentang empat sumber kebahagiaan manusia yang harus kita jaga.
Pertama, ketika ujian datang, jagalah hati agar tetap khusyuk.
Kedua, ketika mendapatkan dunia, jagalah jiwa agar tetap qanaah.
Ketiga, ketika mendapatkan ilmu, jagalah amal agar ilmu tersebut menjadi ilmu yang bermanfaat.
Keempat, ketika menghadapi manusia dan berbagai persoalan hidup, jagalah hubungan dengan Allah melalui doa dan jangan pernah berputus asa dari rahmat-Nya.
Inilah yang harus kita renungkan.
Kita tidak mungkin meminta kehidupan tanpa ujian.
Tetapi kita bisa meminta hati yang kuat.
Kita tidak mungkin memiliki seluruh kenikmatan dunia.
Tetapi kita bisa memiliki hati yang qanaah.
Kita tidak mungkin mengetahui seluruh ilmu.
Tetapi kita bisa meminta ilmu yang bermanfaat.
Kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan.
Tetapi kita harus yakin bahwa Allah selalu memberikan apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita memohon kepada Allah:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوءِ الْقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا.
“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari beratnya cobaan, datangnya kesengsaraan, buruknya ketetapan, dan kegembiraan musuh atas penderitaan kami.
Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak pernah puas, dan doa yang tidak dikabulkan.”
Semoga Allah memberikan kepada kita hati yang khusyuk, jiwa yang qanaah, ilmu yang bermanfaat, amal yang saleh, doa yang mustajab, kehidupan yang penuh keberkahan, dan akhir kehidupan yang husnul khatimah.
Semoga Allah menjauhkan kita dari segala perkara yang menghalangi kebahagiaan kita di dunia dan di akhirat.
فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ
“Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia telah memperoleh kemenangan.” (QS. Ali ‘Imran: 185).
بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ






