Teks Khutbah Jum’at  “Keutamaan Meraih Hakikat Bahagia, Bersama Belahan Jiwa, Sampai Bersua di Surga”  Oleh Dr. Derysmono, B.Sh., S.Pd.I., M.A.

Teks Khutbah Jum’at “Keutamaan Meraih Hakikat Bahagia, Bersama Belahan Jiwa, Sampai Bersua di Surga” Oleh Dr. Derysmono, B.Sh., S.Pd.I., M.A.

Teks Khutbah Jum’at

“Keutamaan Meraih Hakikat Bahagia, Bersama Belahan Jiwa, Sampai Bersua di Surga”

Oleh Dr. Derysmono, B.Sh., S.Pd.I., M.A.

(Wakil Ketua 1 STAI Dirosat Islamiyah Al-Hikmah Jakarta, CEO adaustadzh.com, Ketua Umum PP HDMI, Direktur Ma’had Aly Raudhotul Qur’an Azzam Sako)

Khutbah ke-1

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَى، وَجَعَلَ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً، وَأَمَرَنَا بِالتَّقْوَى وَالْإِحْسَانِ فِي الْأَهْلِ وَالْأُسْرَةِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ الْمُقَصِّرَةَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin Jama’ah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita meningkatkan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa bukan hanya hadir ketika hidup terasa mudah. Takwa juga harus tetap menyala ketika hati sedang terluka, ketika manusia meninggalkan kita, ketika masalah datang bertubi-tubi, ketika dosa membuat kita merasa jauh, dan ketika kita lupa berdoa namun Allah tetap mencukupi kehidupan kita.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, manusia paling mulia, teladan bagi orang-orang yang diuji, penuntun bagi hati yang lemah, dan pembawa kabar gembira bahwa rahmat Allah lebih luas daripada dosa dan kelemahan hamba-Nya.

Marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa. Takwa yang tidak hanya tampak dalam ibadah pribadi, tetapi juga hadir dalam cara kita memperlakukan keluarga, pasangan hidup, anak-anak, orang tua, dan orang-orang yang Allah amanahkan kepada kita.

Pada kesempatan khutbah Jumat yang mulia ini, khatib mengangkat tema:

“Keutamaan Meraih Hakikat Bahagia, Bersama Belahan Jiwa, Sampai Bersua di Surga.”

Tema ini penting, karena banyak manusia mengejar bahagia, tetapi tidak semua memahami hakikat bahagia. Banyak orang ingin hidup bersama pasangan, tetapi tidak semua menjadikan kebersamaan itu sebagai jalan menuju ridha Allah. Banyak yang ingin sehidup semati, tetapi Islam mengajarkan sesuatu yang lebih tinggi: seiman, seibadah, setia dalam kebaikan, dan berharap dipertemukan kembali di surga.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Hakikat bahagia bukan sekadar banyak harta, rumah mewah, kendaraan bagus, atau pujian manusia. Hakikat bahagia adalah ketika hati dekat dengan Allah, rumah tangga dipenuhi iman, pasangan saling menguatkan dalam kebaikan, dan keluarga berjalan menuju surga Allah.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُوْنَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini mengajarkan bahwa pasangan hidup bukan sekadar teman dalam urusan dunia, tetapi tanda kekuasaan Allah. Dalam rumah tangga yang diridhai Allah, ada tiga pilar besar: sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Sakinah adalah ketenangan. Rumah menjadi tempat pulang, bukan tempat saling melukai. Mawaddah adalah cinta yang melahirkan perhatian, kesetiaan, dan tanggung jawab. Rahmah adalah kasih sayang yang tetap hidup bahkan ketika pasangan sudah tidak sempurna, ketika usia bertambah, ketika ekonomi diuji, ketika kesehatan menurun, dan ketika masalah datang silih berganti.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Pasangan yang baik bukanlah pasangan yang tidak pernah berbeda pendapat. Pasangan yang baik adalah pasangan yang ketika berbeda, tetap menjaga adab. Ketika marah, tidak menghina. Ketika kecewa, tidak membuka aib. Ketika diuji, tidak mudah meninggalkan. Ketika sukses, tidak sombong. Ketika sempit, tidak saling menyalahkan.

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِيْ

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini menjadi ukuran keimanan sosial seorang Muslim. Kebaikan seseorang tidak hanya diukur dari ceramahnya, pakaiannya, ilmunya, atau kedudukannya di masyarakat, tetapi juga dari akhlaknya di rumah. Sebab, di rumah seseorang lebih asli terlihat: apakah ia sabar, lembut, bertanggung jawab, dan penuh kasih sayang.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Ada tiga pesan penting dari tema khutbah kita hari ini.

Pertama: Bahagia sejati dimulai dari takwa kepada Allah

Rumah tangga tanpa takwa akan mudah rapuh. Ketampanan, kecantikan, harta, dan jabatan tidak cukup untuk menjaga keluarga. Yang menjaga keluarga adalah iman, takwa, shalat, doa, akhlak, dan kesadaran bahwa pasangan adalah amanah Allah.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا قُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini mengingatkan bahwa tugas suami bukan hanya memberi nafkah lahir, tetapi juga membimbing keluarga kepada Allah. Tugas istri bukan hanya mengurus rumah, tetapi juga menjadi pendamping dalam kebaikan. Tugas orang tua bukan hanya menyekolahkan anak, tetapi juga menanamkan iman, shalat, Al-Qur’an, adab, dan rasa takut kepada Allah.

Keluarga yang bahagia bukan keluarga yang bebas dari masalah, tetapi keluarga yang menghadapi masalah dengan iman. Ketika rezeki sempit, mereka bersabar. Ketika rezeki lapang, mereka bersyukur. Ketika ada kesalahan, mereka saling memaafkan. Ketika ada kekurangan, mereka saling melengkapi.

Kedua: Belahan jiwa adalah teman ibadah, bukan sekadar teman hidup

Islam memandang pernikahan sebagai ibadah. Maka pasangan hidup seharusnya menjadi teman yang mengingatkan kepada Allah, bukan menjauhkan dari Allah.

Indah sekali apabila suami membangunkan istrinya untuk shalat Subuh. Indah sekali apabila istri mengingatkan suaminya untuk menjaga shalat berjamaah. Indah sekali apabila pasangan membaca Al-Qur’an bersama, berdoa bersama, mendidik anak bersama, dan saling menenangkan ketika hidup terasa berat.

اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang salehah.” (HR. Muslim)

Hadis ini bukan hanya pujian kepada istri salehah, tetapi juga pelajaran bagi para suami agar menjadi laki-laki saleh. Karena wanita salehah layak didampingi oleh laki-laki yang juga berusaha menjadi saleh. Suami yang baik adalah yang menjaga agama keluarganya. Istri yang baik adalah yang membantu suaminya dalam ketaatan. Keduanya saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan.

Maka jangan jadikan pasangan hanya sebagai tempat menuntut kesempurnaan. Pasangan kita adalah manusia yang bisa lelah, bisa salah, bisa lupa, bisa rapuh. Karena itu, rumah tangga membutuhkan sabar, syukur, maaf, doa, dan komunikasi yang baik.

Ketiga: Tujuan tertinggi keluarga Muslim adalah berkumpul di surga

Hadirin Jama’ah Jumat yang dirahmati Allah, cinta yang paling indah bukan hanya cinta yang bertahan sampai tua, tetapi cinta yang dipandu iman hingga berharap dipertemukan di surga. Inilah cita-cita keluarga Muslim: bukan hanya bersama di dunia, tetapi juga bersama dalam ridha Allah di akhirat.

اُدْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُوْنَ

“Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan pasangan-pasanganmu, dalam keadaan berbahagia.” (QS. Az-Zukhruf: 70)

Betapa indahnya ayat ini. Allah menggambarkan kebahagiaan orang beriman yang masuk surga bersama pasangan mereka. Di dunia mereka saling menolong dalam kebaikan, di akhirat Allah muliakan mereka dengan kebahagiaan yang abadi.

Karena itu, mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing: apakah selama ini kita sudah membawa keluarga semakin dekat kepada Allah? Apakah kita sudah mengajak pasangan kepada shalat, tilawah, sedekah, dan kebaikan? Ataukah kita justru lebih sering membawa keluarga kepada kelalaian, pertengkaran, gengsi, dan cinta dunia?

Jangan sampai rumah kita ramai dengan hiburan, tetapi sepi dari Al-Qur’an. Jangan sampai meja makan kita penuh makanan, tetapi hati keluarga kita lapar dari nasihat agama. Jangan sampai kita sibuk membangun rumah dunia, tetapi lupa membangun jalan menuju surga.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

Inilah doa keluarga Muslim. Kita meminta pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk mata. Bukan sekadar enak dipandang, tetapi menenangkan hati karena ketaatan mereka kepada Allah.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Maka untuk meraih hakikat bahagia bersama belahan jiwa sampai bersua di surga, ada beberapa amalan yang perlu kita jaga.

  1. Jaga shalat dalam keluarga. Jangan biarkan anggota keluarga meninggalkan shalat.
  2. Hidupkan Al-Qur’an di rumah. Bacalah walau sedikit, tetapi istiqamah.
  3. Perbanyak doa untuk pasangan dan anak-anak, karena hati manusia berada dalam genggaman Allah.
  4. Biasakan saling memaafkan. Tidak ada rumah tangga tanpa salah, maka jangan pelit memberi maaf.
  5. Jaga lisan dari kata-kata yang melukai. Luka fisik bisa sembuh, tetapi luka hati karena ucapan buruk sering lama membekas.
  6. Saling menolong dalam kebaikan. Suami menolong istri, istri menolong suami, orang tua menolong anak-anak agar dekat kepada Allah.

Semoga Allah menjadikan keluarga kita keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Semoga Allah jadikan pasangan kita sebagai penyejuk hati, anak-anak kita sebagai generasi saleh dan salehah, dan semoga Allah kumpulkan kita bersama orang-orang yang kita cintai di surga-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah ke-2

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ.
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الدَّاعِيْ إِلَى رِضْوَانِهِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَتْبَاعِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ، فَقَالَ تَعَالَى:

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ بُيُوْتَنَا، وَأَصْلِحْ أَزْوَاجَنَا، وَأَصْلِحْ ذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْ بُيُوْتَنَا بُيُوْتَ إِيْمَانٍ وَقُرْآنٍ وَسَكِيْنَةٍ وَرَحْمَةٍ.

Ya Allah, jadikanlah pasangan hidup kami sebagai penyejuk mata dan penenteram jiwa. Jadikanlah keluarga kami keluarga yang mencintai-Mu, mencintai Rasul-Mu, menjaga shalat, membaca Al-Qur’an, dan saling menolong dalam kebaikan.

Ya Allah, bagi saudara-saudara kami yang belum mendapatkan pasangan hidup, berikanlah pasangan yang saleh dan salehah, yang membawa ketenangan dan kebaikan dunia akhirat. Bagi yang sedang diuji dalam rumah tangga, turunkanlah kesabaran, kelembutan, jalan keluar, dan keberkahan.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا وَأَهْلِيْنَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَاجْمَعْنَا بِأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَآبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا فِيْ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.