Teks Khutbah Jumat
“Harga Naik, Hidup Berat: Ya Allah Kuatkan Rakyat Indonesia”
Oleh: Dr. Derysmono, B.Sh., S.Pd.I., M.A.
(Wakil Ketua 1 STAI Dirosat Islamiyah Al-Hikmah Jakarta, CEO adaustadzh.com, Direktur surat kabar lintasiman.com, Ketua Umum PP HDMI, Direktur Ma’had Aly Raudhotul Qur’an Azzam Sako Banyuasin)
Edisi ke 46
Juni 2026
Khutbah Pertama
الحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Alhamdulillah puja dan syukur kepada Allah yang memberikan rahmat dan kasih sayang-Nya, nikmat dan hidayah-Nya, semoga kita semua senantiasa berbaik sangka kepada Nya apapaun dan bagaimana pun keadaannya.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, manusia mulia yang mengajarkan kita agar tetap kuat dalam ujian, tetap sabar dalam kesulitan, dan tetap peduli kepada sesama dalam keadaan apa pun.
Khatib berwasiat kepada jamaah sekalian
Marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sebab takwa adalah bekal terbaik dalam hidup. Ketika hidup lapang, takwa membuat kita tidak sombong. Ketika hidup sempit, takwa membuat kita tidak putus asa
Pada kesempatan Jumat yang mulia ini, khatib mengajak diri khatib dan seluruh jamaah untuk merenungkan tema:
“Harga Naik, Hidup Berat: Ya Allah Kuatkan Rakyat Indonesia.”
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Hari-hari ini banyak rakyat merasakan hidup semakin berat. Harga kebutuhan naik. Biaya hidup meningkat. Pendapatan tidak selalu bertambah. Banyak kepala keluarga berpikir keras bagaimana mencukupi kebutuhan rumah. Banyak ibu rumah tangga harus lebih hemat mengatur belanja. Banyak pedagang kecil merasa sepi pembeli. Banyak pekerja merasa pendapatannya tidak cukup untuk menutup kebutuhan.
Ada yang menahan keinginan anaknya. Ada yang menunda membayar utang. Ada yang bingung membayar kontrakan. Ada yang gelisah menghadapi biaya sekolah. Ada yang tetap tersenyum di depan keluarga, padahal hatinya sedang memikul beban yang berat.
Maka khutbah ini bukan untuk menyalahkan siapa-siapa. Khutbah ini untuk menguatkan hati kita. Khutbah ini untuk mengingatkan bahwa dalam hidup yang berat, kita masih punya Allah. Dalam keadaan sempit, kita masih punya doa. Dalam ujian ekonomi, kita masih punya iman, sabar, ikhtiar, dan kepedulian.
—
Pertama: Hidup Berat adalah Ujian, Bukan Tanda Allah Meninggalkan Kita
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
QS. Al-Baqarah: 155
Ayat ini sangat dekat dengan keadaan manusia. Allah menyebut ketakutan, kelaparan, dan kekurangan harta. Artinya, kesulitan ekonomi bukan sesuatu yang asing dalam kehidupan orang beriman. Ia adalah bagian dari ujian.
Namun perhatikan, Allah tidak menutup ayat ini dengan kalimat putus asa. Allah menutupnya dengan kabar gembira:
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Maka wahai saudaraku, mohon kuatkan jiwa. Kita sedang diuji, bukan ditinggalkan Allah. Harga boleh naik, tetapi iman jangan turun. Hidup boleh berat, tetapi hati jangan patah. Pendapatan boleh sulit, tetapi harapan kepada Allah jangan hilang.
Sabar bukan berarti diam tanpa usaha. Sabar adalah tetap berdiri di jalan Allah ketika hidup menekan. Sabar adalah tetap shalat meski hati gelisah. Sabar adalah tetap mencari nafkah halal meski hasilnya belum banyak. Sabar adalah tetap jujur meski keadaan sulit.
—
Kedua: Jangan Putus Asa, Karena Bersama Kesulitan Ada Kemudahan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
QS. Al-Insyirah: 5–6
Ayat ini bukan hanya dibaca ketika hati tenang, tetapi justru harus dibaca ketika hidup terasa berat. Allah tidak mengatakan setelah kesulitan baru ada kemudahan. Allah mengatakan bersama kesulitan ada kemudahan.
Artinya, di tengah masalah, Allah sudah menyiapkan jalan. Di tengah sempit, Allah sudah menyiapkan pertolongan. Di tengah tangis, Allah sudah menyiapkan penghiburan. Di tengah mahalnya hidup, Allah masih bisa membuka rezeki dari arah yang tidak kita sangka.
Jangan berkata, “Saya sudah tidak kuat.”
Katakanlah, “Ya Allah, kuatkan aku.”
Jangan berkata, “Tidak ada jalan.”
Katakanlah, “Ya Allah, tunjukkan jalan.”
Jangan berkata, “Hidup ini terlalu berat.”
Katakanlah, “Ya Allah, Engkau lebih besar dari semua masalahku.”
—
Ketiga: Rezeki Ada di Tangan Allah, Tetapi Ikhtiar Tetap Wajib
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
QS. Ath-Thalaq: 2–3
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa jalan keluar itu ada. Rezeki itu ada. Pertolongan Allah itu ada. Tetapi kuncinya adalah takwa.
Takwa dalam mencari nafkah berarti jujur.
Takwa dalam berdagang berarti tidak menipu.
Takwa dalam bekerja berarti amanah.
Takwa dalam memimpin berarti tidak zalim.
Takwa dalam berkeluarga berarti bertanggung jawab.
Takwa dalam hidup berarti tidak mencari jalan haram meski keadaan sedang sulit.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang.”
HR. Tirmidzi
Burung tidak diam di sarang. Burung bergerak. Burung keluar mencari rezeki. Inilah tawakal yang benar: hati bergantung kepada Allah, tangan tetap bekerja, kaki tetap melangkah, pikiran tetap mencari jalan.
Maka jangan malu bekerja halal. Jangan gengsi berjualan kecil. Jangan merendahkan pekerjaan sederhana. Selama halal, selama baik, selama tidak menzalimi orang, maka itu mulia di sisi Allah.
—
Keempat: Saat Hidup Berat, Jangan Mencari Jalan Haram
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Kesulitan hidup sering membuka pintu godaan. Ketika kebutuhan banyak dan penghasilan sedikit, sebagian orang tergoda mengambil jalan pintas: berbohong, menipu, korupsi, riba, judi online, pinjaman haram, mengurangi timbangan, menahan hak pekerja, atau mengambil yang bukan haknya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ
“Janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil.”
QS. Al-Baqarah: 188
Ingatlah, rezeki haram tidak akan menenangkan hati. Uang haram mungkin bisa membeli makanan, tetapi tidak bisa membeli keberkahan. Uang haram mungkin bisa membayar kebutuhan, tetapi bisa mengundang kegelisahan. Uang haram mungkin terlihat sebagai jalan keluar, tetapi sebenarnya ia adalah pintu masalah baru.
Karena itu, kuatkan prinsip dalam keluarga kita:
Lebih baik sedikit tetapi halal.
Lebih baik sederhana tetapi berkah.
Lebih baik hidup hemat tetapi hati tenang.
Lebih baik menunggu pertolongan Allah daripada membuka pintu murka Allah.
—
Kelima: Di Masa Sulit, Jangan Hidup Sendiri-Sendiri
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ
“Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.”
QS. Al-Ma’idah: 2
Ayat ini sangat penting untuk keadaan kita hari ini. Ketika hidup berat, jangan biarkan saudara kita memikul beban sendirian. Perhatikan tetangga. Lihat keluarga dekat. Lihat jamaah masjid. Lihat pedagang kecil. Lihat anak yatim. Lihat orang tua yang tidak lagi kuat bekerja.
Kadang seseorang tidak meminta bantuan bukan karena ia tidak butuh, tetapi karena ia malu. Kadang seseorang tersenyum bukan karena hidupnya ringan, tetapi karena ia menyembunyikan beban.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti satu bangunan yang saling menguatkan.”
HR. Bukhari dan Muslim
Maka mari kita hidupkan kembali kepedulian. Yang punya kelebihan harta, bersedekahlah. Yang punya usaha, bukalah peluang kerja. Yang punya ilmu, bimbinglah orang lain. Yang punya jabatan, permudahlah urusan rakyat. Yang punya tenaga, bantulah saudara. Yang tidak punya apa-apa, doakanlah dengan tulus.
Jangan menunggu kaya untuk peduli.
Jangan menunggu lapang untuk berbagi.
Jangan menunggu diminta baru membantu.
Sebab kadang sedekah kecil dari hati yang ikhlas lebih besar nilainya di sisi Allah daripada pemberian besar yang disertai kesombongan.
—
Keenam: Doakan Negeri, Kuatkan Rakyat, Jaga Persaudaraan
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Indonesia adalah rumah kita. Di negeri ini kita lahir, bekerja, mendidik anak, beribadah, dan berharap masa depan yang lebih baik. Maka jangan lelah mendoakan negeri ini.
Doakan para pemimpin agar diberi amanah dan keadilan.
Doakan para pedagang kecil agar dilapangkan rezekinya.
Doakan para petani, nelayan, buruh, guru, tenaga kesehatan, dan seluruh pekerja agar dimudahkan urusannya.
Doakan para orang tua agar kuat menafkahi keluarga.
Doakan anak-anak bangsa agar tumbuh dalam iman, ilmu, dan akhlak.
Jangan jadikan kesulitan sebagai alasan untuk saling membenci. Jangan jadikan mahalnya hidup sebagai alasan untuk memutus persaudaraan. Jangan jadikan keadaan berat sebagai alasan untuk meninggalkan shalat, meninggalkan doa, dan meninggalkan Allah.
Justru ketika hidup berat, kita harus lebih dekat kepada Allah.
Ya Allah, kuatkan rakyat Indonesia.
Ya Allah, mudahkan urusan rakyat Indonesia.
Ya Allah, lapangkan rezeki rakyat Indonesia.
Ya Allah, jauhkan bangsa ini dari kelaparan, kezaliman, perpecahan, dan kerusakan akhlak.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Dari khutbah ini, marilah kita membawa pulang beberapa pesan:
Pertama, hidup berat adalah ujian, bukan tanda Allah meninggalkan kita.
Kedua, jangan putus asa, karena bersama kesulitan ada kemudahan.
Ketiga, teruslah berikhtiar dan bertawakal kepada Allah.
Keempat, jangan mencari jalan haram meskipun keadaan sulit.
Kelima, kuatkan kepedulian kepada sesama.
Keenam, doakan negeri ini agar Allah ringankan beban rakyat Indonesia.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، اتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ، فَقَالَ تَعَالَى:
إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Pada khutbah kedua ini, marilah kita memperbanyak doa. Kita memohon kepada Allah agar menguatkan hati rakyat Indonesia. Kita memohon agar Allah melapangkan rezeki yang halal dan berkah. Kita memohon agar Allah menjaga negeri ini dari fitnah, kelaparan, kezaliman, kerusakan, dan perpecahan.
Mari kita mulai dari diri sendiri. Hemat dalam belanja. Jujur dalam mencari nafkah. Jangan meremehkan sedekah. Jangan menunda zakat. Jangan menutup mata dari penderitaan saudara. Jangan menyebarkan kebencian. Jangan putus asa dari rahmat Allah.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang sabar dalam ujian, kuat dalam iman, lembut kepada sesama, dan selalu berharap hanya kepada-Nya.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ يَا رَحْمٰنُ يَا رَحِيْمُ، قَوِّ قُلُوْبَنَا، وَثَبِّتْ إِيْمَانَنَا، وَارْزُقْنَا صَبْرًا جَمِيْلًا، وَتَوَكُّلًا صَادِقًا، وَعَمَلًا صَالِحًا مُتَقَبَّلًا.
اَللّٰهُمَّ يَسِّرْ أُمُوْرَنَا، وَفَرِّجْ هُمُوْمَنَا، وَنَفِّسْ كُرُوْبَنَا، وَاقْضِ دُيُوْنَنَا، وَاشْفِ مَرْضَانَا، وَارْحَمْ مَوْتَانَا.
اَللّٰهُمَّ وَسِّعْ أَرْزَاقَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا، وَاجْعَلْ أَرْزَاقَنَا حَلَالًا طَيِّبًا مُبَارَكًا، وَاكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ الضُّعَفَاءَ وَالفُقَرَاءَ وَالمَسَاكِيْنَ، وَأَطْعِمِ الجِيَاعَ، وَاكْسُ العُرَاةَ، وَفَرِّجْ عَنِ المَكْرُوْبِيْنَ، وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ المَدِيْنِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيْسِيَا، وَسَائِرَ بِلَادِ المُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْهَا بِلَادًا آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً، رَخِيَّةً سَخِيَّةً، وَسَائِرَ بِلَادِ المُسْلِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ خَفِّفْ عَنْ رَعِيَّةِ إِنْدُونِيْسِيَا مَا ثَقُلَ عَلَيْهِمْ، وَيَسِّرْ لَهُمْ مَا تَعَسَّرَ عَلَيْهِمْ، وَافْتَحْ لَهُمْ أَبْوَابَ الرِّزْقِ وَالرَّحْمَةِ وَالبَرَكَةِ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَارْزُقْهُمُ العَدْلَ وَالأَمَانَةَ وَالرَّحْمَةَ بِالرَّعِيَّةِ. اَللّٰهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنَا، وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنَا شِرَارَنَا.
اَللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَجَنِّبْنَا الفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا، لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللّٰهِ،
إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللّٰهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.






