Oleh Dr. Derysmono, Lc., B.Sh., S.Pd.I., M.A.
(Ketua Umum PP HDMI (Himpunan Dai Muda Indonesia), Wakil Ketua 1 STAI DI Al-Hikmah Jakarta, CEO adaustadzh.com, Direktur Utama lintasiman.com, Direktur Ma’had Aly Raudhotul Qur’an Azzam Sako)
Khutbah 1
اَاَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ. الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزّمَانَ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَخَصَّ بَعْضُ الشُّهُوْرِ وَالأَيَّامِ وَالَليَالِي بِمَزَايَا وَفَضَائِلَ يُعَظَّمُ فِيْهَا الأَجْرُ والحَسَنَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اللّهُمَّ صَلّ وسّلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ وِعَلَى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ في أَنْحَاءِ البِلاَدِ. أمَّا بعْدُ، فيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ. قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
Hadirin jama’ah sholat Idul Fitri yang yang dirahmati Allah
Allahu akbar Allahu Akbar walillahilhamd
Marilah kita bersama-sama menundukkan hati, memanjatkan syukur yang sedalam-dalamnya kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Betapa besar karunia-Nya kepada kita, betapa luas nikmat-Nya yang tak pernah terhitung. Di pagi yang penuh kemuliaan ini, Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk berkumpul dalam suasana Idul Fitri, hari kemenangan yang suci. Dari sekian banyak nikmat yang Allah curahkan, maka nikmat iman, Islam, dan taqwa adalah nikmat yang paling agung, nikmat yang tidak ternilai dengan apa pun di dunia ini. Padahal, jika kita merenung sejenak, begitu banyak dosa yang telah kita lakukan, begitu banyak kelalaian yang mungkin kita anggap biasa. Namun Allah Yang Maha Ḥalīm, Yang Maha Penyantun, tidak serta-merta menghukum kita. Dia justru membuka pintu taubat seluas-luasnya, menunggu kita kembali kepada-Nya, menunggu kita mengetuk pintu ampunan-Nya dengan hati yang penuh harap dan penyesalan. Maka di hari yang fitri ini, marilah kita memohon dengan penuh kerendahan hati, semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita, mengampuni segala dosa kita, melipatgandakan pahala kita, dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang benar-benar kembali dalam keadaan suci.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, sosok manusia terbaik sepanjang zaman, yang cintanya kepada umat tidak pernah pudar. Beliau adalah Nabi yang selalu memikirkan umatnya, bahkan di saat-saat terakhir kehidupannya pun yang beliau sebut adalah “ummatī… ummatī…”. Pada pagi yang penuh haru ini, ketika hati kita merindukan beliau, maka perbanyaklah sujud kepada Allah, perbanyaklah doa agar kelak kita dikumpulkan bersama beliau di dalam surga-Nya. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan syafaat beliau di hari kiamat.
اللهم صلِّ على محمد وعلى آل محمد وعلى أصحابه أجمعين.
Khatib berwasiat kepada jamaah sekalian dan kepada diri khatib sendiri, marilah kita terus menjaga dan meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah. Taqwa bukan sekadar semangat yang hadir di bulan Ramadhan, tetapi harus menjadi nafas kehidupan kita sepanjang tahun. Taqwa adalah rasa takut yang membuat kita menjauhi dosa, dan harapan yang mendorong kita untuk terus beramal. Jangan sampai setelah Ramadhan berlalu, kita kembali pada kebiasaan lama, lalai dalam shalat, enggan bersedekah, dan putus dalam silaturrahim. Jadikanlah Ramadhan sebagai titik awal perubahan, sebagai madrasah yang melatih kita untuk istiqamah. Teruslah menjaga shalat lima waktu, hidupkan puasa-puasa sunnah, ringankan tangan untuk bersedekah kepada fakir miskin, dan eratkan kembali tali persaudaraan dengan keluarga, tetangga, dan sesama. Karena sejatinya, tanda diterimanya ibadah Ramadhan adalah ketika kebaikan itu terus berlanjut setelahnya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bertaqwa, yang istiqamah dalam kebaikan hingga akhir hayat. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Hadirin yang dimuliakan Allah
Allahu akbar Allahu Akbar walillahilhamd
Pada kesempatan yang mulia ini, izinkan khatib menyampaikan tema khutbah: : “Raih Derajat Taqwa dengan Menguatkan Ukhuwwah, Meningkatkan Keimanan dan Kesalehan Sosial”
Hari ini adalah hari yang agung, hari yang penuh kebahagiaan, hari di mana kaum muslimin kembali kepada fitrah setelah sebulan penuh ditempa dalam madrasah Ramadan. Kita telah berpuasa, menahan lapar dan dahaga, menahan amarah, menjaga lisan, serta memperbanyak ibadah. Namun di balik semua itu, ada satu tujuan besar yang Allah tetapkan, yaitu agar kita menjadi hamba-hamba yang bertaqwa.
Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah : 183:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Jamaah yang berbahagia,
Allah Ta‘ala mengabarkan nikmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan mewajibkan puasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada umat-umat sebelum mereka. Hal ini karena puasa termasuk syariat yang membawa kemaslahatan bagi manusia di setiap zaman.[1]
Di dalam ayat ini juga terdapat dorongan bagi umat Islam untuk berlomba dalam kebaikan, serta penegasan bahwa puasa bukanlah beban yang berat yang hanya dibebankan kepada mereka saja.[2]
Kemudian Allah menjelaskan hikmah puasa, yaitu agar manusia bertakwa. Puasa merupakan salah satu sarana terbesar untuk mencapai ketakwaan, karena di dalamnya terdapat pelaksanaan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.[3] Makna lainnya bertakwa, yaitu menahan diri dari syahwat dan perkara yang diharamkan.[4]
Taqwa bukan sekadar gelar, bukan sekadar pengakuan, tetapi ia adalah keadaan hati yang tercermin dalam kehidupan. Taqwa bukan hanya tampak di sajadah, tetapi juga tampak dalam sikap, dalam ucapan, dan dalam interaksi sosial kita.
Oleh karena itu, Idul Fitri bukan hanya tentang kembali suci, tetapi tentang naiknya derajat kita di hadapan Allah. Pertanyaannya, apakah Ramadan yang telah kita lalui benar-benar telah mengangkat derajat kita? Apakah hati kita menjadi lebih lembut? Apakah ibadah kita menjadi lebih baik? Apakah kepedulian kita terhadap sesama semakin meningkat?
Jamaah yang dirahmati Allah,
Salah satu tanda nyata dari taqwa adalah kuatnya ukhuwwah, kuatnya persaudaraan di antara kaum muslimin. Allah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa orang-orang beriman itu bersaudara. Maka hari ini, ketika kita saling berjabat tangan, saling memaafkan, sesungguhnya yang sedang kita bangun bukan sekadar tradisi, tetapi kita sedang menegakkan pondasi kekuatan umat.
Ukhuwwah yang sejati bukan hanya di lisan, tetapi di hati. Ia menuntut kita untuk membersihkan dendam, menghapus kebencian, dan menggantinya dengan kasih sayang. Sebab tidak mungkin seseorang mencapai derajat taqwa sementara hatinya masih dipenuhi iri, dengki, dan permusuhan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَدَاخَلُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا[5]
Jamaah sekalian,
Larangan “saling membenci” (التباغض) menunjukkan haramnya memelihara kebencian dalam hati yang berujung pada permusuhan.[6]
Larangan “hasad” (الحسد) yaitu keinginan agar nikmat orang lain hilang, merupakan penyakit hati yang merusak individu dan masyarakat.[7]
Larangan “saling membelakangi” (التدابر) berarti menjauhi dan memutus interaksi, baik secara fisik (tidak mau bertemu) maupun secara sosial (tidak peduli).[8]
Setelah melarang sebab-sebab perpecahan, Nabi ﷺ memerintahkan agar kaum Muslimin menjadi bersaudara, yaitu seperti saudara kandung dalam hal kasih sayang, empati, saling menolong, dan saling menasihati.[9]
Selain ukhuwah, taqwa juga harus tercermin dalam keimanan yang semakin kuat. Ramadan telah melatih kita untuk dekat dengan Allah: kita shalat berjamaah, kita membaca Al-Qur’an, kita memperbanyak doa. Namun yang menjadi pertanyaan besar adalah, apakah semua itu akan terus kita jaga setelah Ramadan berlalu?
Karena keimanan yang sejati bukan hanya hadir di bulan Ramadan, tetapi tetap hidup di bulan-bulan setelahnya. Jika setelah Ramadan kita kembali meninggalkan shalat, kembali lalai dari Al-Qur’an, kembali tenggelam dalam dosa, maka itu tanda bahwa iman kita belum kokoh.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Taqwa juga tidak akan sempurna tanpa kesalehan sosial. Islam tidak mengajarkan kita menjadi hamba yang hanya sibuk dengan ibadah pribadi, tetapi juga menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ[10]
Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang dalam Islam tidak hanya terletak pada ibadah ritual semata, tetapi juga pada sejauh mana ia mampu memberikan manfaat kepada orang lain. Seorang Muslim yang mulia adalah mereka yang kehadirannya membawa kebaikan, kemudahan, dan solusi bagi sesama, sehingga nilai dirinya tidak hanya diukur dari hubungan vertikal kepada Allah, tetapi juga dari kontribusi sosialnya di tengah masyarakat.[11]
Manfaat tersebut tidak terbatas pada aspek materi saja, tetapi mencakup berbagai dimensi kehidupan, seperti memberikan ilmu, nasihat, bantuan tenaga, dukungan moral, bahkan sekadar menghadirkan kebahagiaan di hati orang lain. Semua bentuk kebaikan ini termasuk amal yang dicintai oleh Allah, karena menunjukkan kepedulian, empati, dan semangat tolong-menolong yang menjadi inti dari ajaran Islam.[12]
Kesalehan sosial itu terlihat dalam kepedulian kita terhadap sesama. Ia tampak ketika kita membantu yang kesulitan, ketika kita jujur dalam pekerjaan, ketika kita tidak menyakiti orang lain dengan lisan maupun perbuatan.
Hari ini kita menyaksikan kenyataan yang tidak bisa kita abaikan. Harga kebutuhan hidup meningkat, lapangan pekerjaan semakin sempit, dan tidak sedikit saudara kita yang harus berjuang keras hanya untuk bertahan hidup. Bahkan ada yang menyambut Idul Fitri dalam keadaan penuh keterbatasan.
Di sinilah makna kesalehan sosial menjadi sangat penting. Zakat fitrah yang kita tunaikan bukan sekadar kewajiban, tetapi simbol bahwa Islam mengajarkan keadilan sosial. Bahwa di dalam harta kita ada hak orang lain yang harus kita tunaikan.
Allah berfirman dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 19.:
وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ
Jamaah yang dirahmati Allah,
Yang dimaksud dengan as-sā’il adalah orang yang meminta bantuan kepada orang lain. Sedangkan al-maḥrūm adalah orang yang menahan diri dari meminta, padahal ia membutuhkan, baik karena kemiskinan, musibah, atau sebab lainnya.[13]
Ibnu Jarir menjelaskan bahwa makna yang paling tepat adalah mencakup semua orang yang membutuhkan, baik karena kehilangan harta, tidak memiliki penghasilan, atau karena menjaga kehormatan diri dengan tidak meminta.[14]
Ayat ini juga menunjukkan bahwa selain melaksanakan ibadah kepada Allah, orang-orang bertakwa juga menetapkan dalam harta mereka bagian untuk membantu sesama sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah.[15]
Mayoritas ulama berpendapat bahwa “hak” dalam ayat ini bukan hanya zakat wajib, melainkan juga sedekah sunnah, karena ayat ini turun di Makkah sebelum diwajibkannya zakat secara formal di Madinah.[16]
Kondisi ekonomi umat hari ini menuntut kita untuk tidak hanya menjadi dermawan, tetapi juga menjadi penguat bagi sesama. Kita harus membangun solidaritas ekonomi, saling membantu, saling menguatkan, dan tidak saling menjatuhkan.
Ukhuwwah yang kita bangun hari ini harus melahirkan kekuatan nyata. Kekuatan dalam iman, kekuatan dalam persatuan, dan kekuatan dalam ekonomi. Karena umat yang terpecah dan lemah secara ekonomi akan mudah goyah dan tertinggal.
Maka Idul Fitri ini hendaknya menjadi titik awal bagi kita untuk kembali kepada fitrah yang utuh: fitrah iman, fitrah persaudaraan, dan fitrah kepedulian.
Jangan biarkan Idul Fitri ini berlalu tanpa perubahan. Jangan biarkan hati kita kembali keras, tangan kita kembali enggan memberi, dan hubungan kita kembali renggang.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillāhil-ḥamd.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْ
Khutbah II
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
[1] ‘Abd ar-Rahman bin Nashir as-Sa‘di, Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tahqīq: ‘Abd ar-Rahman bin Mu‘alla al-Luwayḥiq, (Riyadh: Mu’assasah ar-Risālah, 2000), hlm. 86.
[2] ‘Abd ar-Rahman bin Nashir as-Sa‘di, Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tahqīq: ‘Abd ar-Rahman bin Mu‘alla al-Luwayḥiq, (Riyadh: Mu’assasah ar-Risālah, 2000), hlm. 86.
[3] ‘Abd ar-Rahman bin Nashir as-Sa‘di, Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, , hlm. 86.
[4] Al-Husain bin Mas‘ud al-Baghawi, Ma‘ālim at-Tanzīl, tahqīq: ‘Abd ar-Razzaq al-Mahdi, (Beirut: Dār Iḥyā’ at-Turāth al-‘Arabi, 1998), jil. 1, hlm. 196.
[5] Muḥammad bin Ismā‘īl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Adab, Bāb “Lā Tabāghaḍū”, no. 6065; Muslim bin al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Birr wa aṣ-Ṣilah, no. 2559.
[6] Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī, Fatḥ al-Bārī bi Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1379 H), jil. 10, hlm. 481.
[7] al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah), jil. 3, hlm. 192.
[8] An-Nawawī, Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, jil. 16, hlm. 118.
[9] Ibn Ḥajar, Fatḥ al-Bārī, jil. 10, hlm. 484.
[10] Hadis ini diriwayatkan oleh Ibn Ḥibbān dalam al-Majrūḥīn (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, jil. 2, hlm. 1), al-Quḍā‘ī dalam Musnad ash-Shihāb (no. 1234), dan Aṭ-Ṭabarānī dalam al-Mu‘jam al-Awsaṭ (no. 5787); serta dinilai berderajat ḥasan oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani dalam Badā’i‘ aṣ-Ṣul, hlm. 44.
[11] Ibn Rajab al-Ḥanbalī, Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam, (Beirut: Mu’assasah ar-Risālah), hlm. 262.
[12] Ibn Rajab al-Ḥanbalī, Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam, (Beirut: Mu’assasah ar-Risālah), hlm. 262.
[13] Wahbah az-Zuhaili, at-Tafsīr al-Wasīṭ, (Damaskus: Dār al-Fikr, 2001), jil. 4, hlm. 287.
[14] Muḥammad bin Jarir ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān, tahqīq: Ahmad Shakir, (Kairo: Dār al-Ma‘ārif, 1954), jil. 22, hlm. 418.
[15] Az-Zuhaili, at-Tafsīr al-Wasīṭ, jil. 4, hlm. 288.
[16] Al-Alusi, Rūḥ al-Ma‘ānī, (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah), jil. 27, hlm. 20.






